PEMAHAMAN TEKS KEISLAMAN DAN PRAKTIK KAPITAL SIMBOLIK BAHASA ARAB DI MTs AL-ITTIHAAD MA’ARIF NU 1 PURWOKERTO
Kata Kunci:
Pemahaman Teks Keislaman, Kapital Simbolik, Bahasa Arab, MTs , Sosiologi PendidikanAbstrak
Bahasa Arab di madrasah merupakan mata pelajaran pokok atau wajib. Bahasa Arab sebagai bahasa yang digunakan Al-Quran, serta Sunnah Nabi. Maka sudah semestinya bahasa arab mendapatkan perhatian serius untuk memahami teks keislaman. Penelitian ini dilatarbelakangi oleh posisi ganda bahasa Arab di lingkungan madrasah, yakni sebagai mata pelajaran wajib dan sebagai bahasa sumber teks-teks keagamaan yang menjadi ciri khas identitas madrasah. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis tingkat pemahaman peserta didik terhadap teks-teks keislaman (kitab/buku teks berbahasa Arab) serta mendeskripsikan praktik dan fungsi bahasa Arab sebagai kapital simbolik bagi siswa di MTs Al-Ittihaad Ma'arif NU 1 Purwokerto. Penelitian ini menggunakan desain study kasus yang bersifat kualitatif. Pengumpulan data dilakukan melalui observasi kegiatan pembelajaran, wawancara mendalam dengan guru dan siswa, serta studi dokumentasi. Analisis data menggunakan model interaktif dari Miles dan Huberman, serta pisau analisis teori kapital simbolik milik Pierre Bourdieu untuk melihat nilai prestise, legitimasi penguasaan ilmu agama, dan status sosial yang melekat pada penguasaan bahasa Arab. Hasil penelitian menunjukkan bahwa: (1) Pemahaman teks keislaman siswa bervariasi, dipengaruhi oleh latar belakang pendidikan dasar (SD/MI vs. Madrasah Diniyah) dan minat terhadap nahwu-sharaf; (2) Penguasaan bahasa Arab di lingkungan MTs Al-Ittihaad Ma'arif NU 1 Purwokerto dipraktikkan sebagai kapital simbolik, di mana siswa yang mampu membaca, menerjemahkan, atau memahami teks Arab secara mendalam mendapatkan pengakuan (recognition) sebagai santri atau siswa yang berpengetahuan agama lebih tinggi oleh teman sebaya dan lingkungan sosial madrasahnya; (3) Kapital simbolik bahasa Arab ini memberikan keuntungan kultural, seperti rasa percaya diri yang lebih tinggi dalam mengikuti kegiatan keagamaan di masyarakat dan peluang akses pendidikan lanjutan yang lebih baik. Kesimpulan dari penelitian ini adalah bahwa penguasaan bahasa Arab tidak hanya berdimensi kognitif (kemampuan akademik), tetapi juga berdimensi sosiokultural sebagai pembentuk identitas dan prestise keagamaan di lingkungan madrasah.
